Hari Akhir

BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Dalam Al – Qur’an, kehidupan didunia merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan akhirat. Kehidupan dunia seorang dipandang kaya sepanjang ia dipenuhi oleh amal baik, kepercayaan bahwa kehidupan dunia mengarah kepada kehidupan akhirat merupakan kepercayaan fundamental dalam Al – Qur’an. Tidak ada pembahasan kehidupan akhirat yang terpisah dari pembahasan tentang kehidiapan dunia. Karena itulah, secara linguistic tidak mengkin berbicara tentang kehidupan akhirat dalam Al – Qur’an tanpa rujukan semantic kepada kehidupan akhirat, masing-masing istilah ini bersifat komperatif terhadap yang lain. Dengan demikian terbentuklah istilah al – Ula dan al – akhirat, ad - dunya dan al – akhirat, keduanya tidak memiliki nama tersendiri, atau lepas dari yang lain. Akibatnya, frekwensi penyebutan istilah-istilah itu dalam Al – Qur’an pun sama. Istilah dunya dan akhirat muncul masing-masing sebanyak 115 kali. Sebuah symbol keseimbangan yang indah. Kalian pasti sudah pernah mengenal istilah masyarakat madani. Masyarakat yang dibangun oleh pribadi-pribadi yang kamil, sempurna. Individu yang dijiwai oleh semangat keseimbangan hidup antara kehidupan duniawi dan ukrowi. Inilah komunitas masyarakat madani secara umum yang dicita-citakan oleh setiap bangsa, termasuk di negeri ini yaitu Indonesia. Tujuan Agama adalah menghiasi dunia dan memperbaikinya, memimpin dan menguasainya, dan agar manusia menjadi mitra Allah di bumi, menjalakkan sesuatu yang diridlainya yakni kebenaran, kedadilan, kebaikan, dan kebijakan serta semua yang dituntut dari kekhlafan di bumi agar kehidupan diakhiran nanti akan merasa damai dan mendapatkan tempat disisi Allah SWT. Amin 1. 2. Perumusan Masalah Penyusun membuat permasalah tidak hanya dari segi akhiratnya saja melainkan kehidupan kedua alam (duniawi dan ukhrowi) akan selalu menopang dari berbagai segi, sehingga penyusun mampu mengangkat permasalahan yaitu : “ KESEMPURNAAN HIDUP DIDUNIA AKAN MEMBAWA KEBAHAGIAN KEHIDUPAN DI AKHIRAT SEBAGAI ISLAM DAN SEJATI “ BAB II PEMBAHASAN MASALAH 2. 1. Tingkatan Kesempurnaan Manusia Bagaimana cara menjadi manusia yang ideal, manusia yang mampu memfungsikan seluruh potensi yang dimilikinya diantaranya : Intelektual, etis, estetis, ritus dan kreatifitasnya dalam berbagai dimensi kehidupan. Menurut, Muthahari, ada empat tahapan bagi seseorang untuk menjadi manusia sempurna : 1. Perjalanan manusia dari diri menuju Tuhan (Allah) 2. Perjalanan manusia bersama Tuhan (Allah) dalam Tuhan (Allah0, untuk mengenalnya. 3. Perjalanan manusia bersama tuhan (Allah) menuju makhluknya 4. Perjalanan manusia bersama tuhan (Allah) diantara makhluknya untuk menyelamatkan mereka. Untuk menjadi atau mencapai derajat manusia yang sempurna diawali dengan menjalankan manusia menuju tuhan, tentu saja dengan berbagai macam latihan seperitual yang dalam dunia tasawuf disebut dengan istilah maqamat. Selama manusia berpisah dengan Allah segala sesuatu adalah kosong dan tidak ada yang berarrti. Dengan berpijak pada Al – Qur’an dan hadist, yaitu bagaimana menggambarkan tentang sosok seorang manusia sempurna dengan melihat sikap mentalnya, amal ibadahnya, seperti yang dinyatakan dalam ayat : “ Allah akan meninggalkan orang yang beriman diantaramu dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, Allah maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan ( Q. S. Al – Mujadalah [58] : 11) 2. 2. Bukti-Bukti Keniscayaan Hari Akhir Kehidupan sesudah mati pasti adanya. Bukankan makhluk yang termulia adalah makhlukyang berjiwa, bukankah yang mulia diantara mereka adalah yang memiliki kehendak dan kebebasan memilih, kemudian yang mulia dari kelompok ini adalah yang mampu melihat jauh kedepan, serta mempertimbangkan dampak kehendak dan pilihan-pilihannya. Dri sini pula jiwa manusia memmulai pertanyaan-pertanyaan baru, sudahkah semua orang melihat dan merasakan akibar perbuatan-perbuatan yang didasarkan oleh pilihan kehendaknya. Karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru dimana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna perbuatan yang didasarkan adas dasar pilihan-pilihan masing-masing. Itu sebabnya dalam al – qur’an menamai hidup di akhirat sebagai al- hayawan yang berarti “ hidup yang sempurna”, dan kematian dinamainya wafat yang arti harfiyahnya adalah “ kesempurnaan.” Sebagai mana firman Allah SWT, sebagai berikut : “ Sesungguhnya saat (hari kiamat) akan dating. Aku dengan sengaja merahasiakan (waktunya). Agar setiap jiwa diberi balasan (dan ganjaran) sesuai dengan usahanya”. (Q.S Thaha [20] : 15). “ (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapakah dianatara kamu yang paling baik amalnya”. (Q.S Al-Mulk [67] : 2). 2. 3. Kehidupan Di Alam Barjah Al- Qur’an tidak hanya menjelaskan tentang hari akhir, tetapi juga meberikan sekian banyak informasi menyangkut kejadian-kejadian saat kematian. Kehidupan barzah, dan peristiwa-peristiwa sesudahnya, dengan kematian, seorang beranjak untuk memasuki saat pertama dari hari akhir. Dalam sebuah riwat dinyatakan bahwa “ siapa yang meninggal, maka kiamatnya telah bangkit”. Kiamat ini dinamai kiamat kecil, saat itu yang bersangkutan dan semua yang meninggal sebelumnya hidup didalam suatu alam yang dinamai alam barzah. Mereka semua menanti kedatangan kiamat besar, yang ditandai dengan peniupan sangkakala sebagaimana akan diuraikan nanti. “ Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (didunia) melainkan (sebentar saja) diwaktu sore atau pagi hari. (Q.S. An-Nazi’at [79] : 46). BAB III PENUTUP 3. 1. Kesimpulan Dari penjelasan diatas bahwasannya penyusun dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya : 1. Bahwa kehidupan di alam semesta ini terdapat dua kehidupan yaitu kehidupan duniawi dan ukrowi. 2. Manusia untuk mencapai kehidupan di dua alam semesta ini harus bertindak adil, dan selalu berjalan di reel Allah SWT. 3. Kesempurnaan baru bias dicapai dengan gaya hidup yang seimbang dari berbagai segi dan tidak keluar dari reel Allah SWT 3. 2. Saran 1. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya maupun bagi penyusun itu sendiri. 2. Penyusun mohon saran dan kritinya yang bersifat membangun, karena makala ini masih banyak kekurangan karena terbatasnya bahan literature yang penyusun gunakan. DAFTAR PUSTAKA Htt://al-qur’an.bahagia.us//_ q.php?_q=sihab&dfa=&dfi=&dfq=&u2=&ui=1&nba=6 Abdul Haris, Drs. M. Ag. “ Quran Hadist Rahasia Warisan Nabi” PUSTAKA MADANI Edisi 2006

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Akhir"

Post a Comment