PMR Wira Unit MA Al Syarifiyah Bondan

MATERI KEGIATAN EKTRAKURIKULER PMR WIRA MA AL SYARIFIYAH BONDAN Palang Merah Remaja (disingkat PMR) yang merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler di MA Al Syarifiyah Bondan mengharuskan para anggotanya paling tidak harus menguasai beberapa materi. Halaman ini akan menjabarkan materi-materi dalam kegiatan PMR. 1 Sejarah Palang Merah Remaja 2 Syarat-syarat menjadi anggota PMR 3 Hak keanggotaan 4 PATUT 5 Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional 6 Tribakti Palang Merah Remaja 7 Mars Palang Merah Indonesia 8 Faktor-Faktor yang dilatih dalam pendidikan ke-PMR-an: 9 Pertolongan Pertama 9.1 Pelaksanaan pertolongan pertama 9.2 Peralatan P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan) 9.3 Pelajaran Membuat Tandu 9.4 Pelajaran Evakuasi korban Sejarah Palang Merah Remaja Dibentuk pada Kongres PMI pada Januari 1950 di Jakarta. PMR dulu bernama Palang Merah Pemuda, 1 Maret 1950. Secara resmi berkembangnya PMR di sekolah didasari Surat Edaran Dirgen Pendidikan No. 11-052-1974, pada tanggal 22 Juni 1974. Syarat-syarat menjadi anggota PMR Berikut ini adalah syarat-syarat untuk menjadi anggota PMR. Warga Negara Indonesia. Berusia 7 tahun sampai dengan 21 tahun. Dapat membaca dan menulis. Atas kemauan sendiri, tanpa paksaan maupun tekanan dari orang lain, ingin menjadi anggota PMR. Mendapat persetujuan dari orang tua atau wali. Sebelum menjadi anggota penuh, bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diharuskan. Bersedia melaksanakan tugas kepalangmerahan selaku anggota PMR secara sukarela. Hak Anggota Hak keanggotaan berakhir apabila: Meninggal dunia Merugikan nama dan kedudukan PMR khususnya, dan PMI umumnya. PATUT Isi dari PATUT: P : Penolong mengamankan diri sendiri sebelum bertindak A : Amankan Korban T : Tandai tempat kejadian U : Usahakan panggil bantuan T : Tangani korban (dengan P3K) mulai dari luka yang paling serius atau membahayakan keselamatan korban Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah Internasional Kemanusiaan Kesamaan Kenetralan Kemandirian Kesukarelaan Kesatuan Kesemestaan Tribakti Palang Merah Remaja Berbakti kepada masyarakat. Mempertinggi ketrampilan dalam rangka meningkatkan kebersihan dan kesehatan. Mempererat persahabatan nasional dan internasional Mars Palang Merah Indonesia Palang Merah Indonesia Sumber kasih umat manusia warisan luhur nusa dan bangsa Wujud nyata mengayom Pancasila Gerak juangnya ke seluruh Nusa Mendharmakan bakti bagi ampera Tunaikan tugas suci, tujuan PMI, di Persada Bunda Pertiwi untuk umat manusia di seluruh dunia PMI mengantarkan jasa Faktor-Faktor yang dilatih dalam pendidikan ke-PMR-an: Fisik Mental Kreatifitas/Otak Pertolongan Pertama Pelaksanaan pertolongan pertama Periksa kesadaran Periksa pernapasan Periksa apakah ada tanda-tanda pendarahan Periksa keadaan lokal atau keadaan sekitar Peralatan P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan) Bahan membersihkan tangan. Contoh: Sabun, alkohol. Obat pencuci luka. Contoh: Rivanol, alkohol. Obat pengurang rasa sakit. Contoh: Parasetamol. Wewangian untuk menyadarkan korban. Contoh: Cologne, minyak angin. Pembalut gulung Mitela Kapas Plester Kain kassa/ kain steril Gunting Pinset Pelajaran Membuat Tandu Menyiapkan alat-alat yang diperlukan: tambang, bambu untuk pegangan tangan Membuat simpul jangkar dan simpul pangkal Mengencangkan dan menguatkan tandu agar bisa ditempati oleh korban Pelajaran Evakuasi korban Bagaimana cara mengangkat korban ke tandu Cara mengangkat korban dengan 2 orang atau lebih. Cara mengangkat korban sendiri KEANGGOTAAN PMR A. Anggota PMR adalah anggota remaja berusia 10 – 17 tahun dan atau belum menikah, yang mendaftarkan diri dan terdaftar dalam kelompok PMR B. Syarat-syarat menjadi anggota 1. Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing yang sedang berdomisili di wilayah Indonesia 2. Berusia 10 tahun sampai dengan 17 tahun dan atau belum menikah atau seusia siswa kelas 4 SD/MI s/d SMU/MA atau yang sederajat 3. Mendapatkan persetujuan orang tua/wali 4. Bersedia mengikuti orientasi, pelatihan, dan pelaksanaan kegiatan kepalangmerahan 5. Mengisi formulir pendaftaran dan mengembalikannya kepada Pembina PMR dikelompok PMR masing-masing, untuk selanjutnya disampaikan kepada pengurus cabang Palang Merah Indonesia setempat. C. Pengesahan Anggota Lihat Pelantikan Anggota PMR D. Anggota PMR 1. PMR Mula : 10 – 12 tahun atau seusia Kelas IV s/d VI (SD/MI) 2. PMR Madya : 12 – 15 tahun atau seusia Kelas VII s/d IX (SMP/MTS/SLB) 3. PMR Wira : 15 – 17 tahun seusia Kelas X s/d XII (SMA/SMK/MA) E. Hak dan Kewajiban 1. Hak a. Mendapatkan pembinaan dan pengembangan oleh PMI b. Menyampaikan pendapat dalam forum/pertemuan resmi PMI c. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan PMR d. Mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) 2. Kewajiban a. Menjalankan dan membantu menyebarluaskan prinsip-prinsip dasar gerakan b. Mematahui AD/ART PMI c. Membantu mempromosikan kegiatan PMI d. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan PMI e. Menjaga nama baik PMI f. Membayar uang iuran keaggotaan F. Penghentian Anggota 1. Keanggotaan PMR dinyatakan gugur keanggotaannya jika yang bersangkutan: a. Mohon berhenti b. Diberhentikan c. Meninggal dunia 2. Anggota PMR dapat diberhentikan oleh Pengurus PMI Cabang, apabila yang bersangkutan mencemarkan nama baik PMI dan atau dijatuhi hukuman pidana yang telah berkekuatan hukum tetap 3. Penghentian secara resmi dinyatakan dengan surat keputusan penghentian dan penonaktifan nomor anggota ORGANISASI PMR A. Organisasi PMR disekolah 1. Tim Pembina Pengembangan Kepalangmerahan a. Sesuai perjanjian kerja sama PMI – Depdikbud RI tanggal 24 Mei 1995 No. 0118/U/1995 dan No. 0090/KEP/PP/95, dibentuk Tim Pembina Pengembangan Kepalangmerahan di kalangan siswa, warga belajar, dan mahasiswa, disingkat TP PMI b. PMI dibentuk di tingkat Pusat, Propinsi, Kota/Kabupaten c. TP PMI disetiap tingkatan terdiri dari unsur PMI, Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Departemen Agama d. TP PMI Pusat bertugas: 1) Menyiapkan program pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan ditingkat siswa, warga belajar, dan mahasiswa secara nasional 2) Menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pembinaan kepada TP PMI Propinsi 3) Menerima laporan dari TP PMI Propinsi e. TP PMI Propinsi bertugas: 1) Menyiapkan program pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan di kalangan siswa, warga belajar, dan mahasiswa di tingkat propinsi, secara terinci dan mengacu pada program nasional 2) Menyiapkan dan melaksanakan pembinaan TP PMI Kota/Kabupaten 3) Menerima laporan dari hasil TP PMI Kota/Kabupaten f. TP PMI Kota/Kabupaten bertugas: 1) Menyiapkan program pembinaan dan pengembangan kepalangmerahan di kalangan siswa, warga belajar, dan mahasiswa di tingkat Kota/Kabupaten, secara rinci dan mengacu pada program Nasional dan Propinsi 2) Menyampaikan laporan dan hasil kerja kepada TP PMI Propinsi 2. Organisasi PMR di sekolah a. Pembinaan PMR dilaksanakan oleh TP PMI b. Di lingkungan PMI Pusat/Daerah/Cabang, pembinaan PMR dilaksanakan oleh Bidang SDM/PMR/Diklat c. PMR di sekolah disebut kelompok PMR, yang beranggotakan minimal 10 orang d. Kegiatan PMR di sekolah merupakan bagian dari kegiatan ekstra kurikuler, dibawah pembinaan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan e. Susunan Pengurus PMR di sekolah: 1) Pelindung adalah TP PMI Kota/Kabupaten 2) Penanggung jawab adalah Kepala Sekolah 3) Pembina PMR 4) Pelatih PMI 5) Pengurus harian PMR terdiri dari siswa-siswi yang telah menjadi anggota PMR dengan masa bakti minimal 1 tahun, terdiri dari: a) Seorang ketua b) Seorang wakil ketua c) Seorang sekretaris d) Seorang bendahara e) Unit-unit: (1) Bakti Masyarakat (2) Ketrampilan, kebersihan, dan kesehatan (3) Persahabatan (4) Umum 3. Struktur organisasi PMR di sekolah Terlampir B. Organisasi PMR luar sekolah 1. Ketentuan organisasi sama dengan kelompok PMR di sekolah 2. Nama kelompok PMR disesuaikan dengan nama desa/kecamatan/instansi tempat kelompok PMR tersebut dibentuk 3. Anggotanya terdiri dari anggota remaja PMI diluar sekolah 4. Penanggung jawab adalah Kepala Desa/Kecamatan/Instansi 5. Struktur organisasi PMR luar sekolah, terlampir C. Peran masing-masing pihak 1. PMI Pusat a. Mengeluarkan kebijakan tentang pembinaan PMR (perekrutan, pelatihan, pengembangan kegiatan, pengembangan kapasitas, pelaporan, monitoring, dan evaluasi) b. Mengeluarkan buku panduan pembinaan, kurikulum standard pelatihan anggota dan Pembina PMR, dan modul c. Memfasilitasi PMI Daerah melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul d. Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat nasional e. Menyelenggarakan kegiatan nasional, misal Jumbara Nasional f. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR g. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Pusat (TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, NGO) untuk pengembangan pembinaan PMR h. Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR, dan meneruskan informasi tersebut kepada PMI Daerah 2. PMI Daerah a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Memfasilitasi PMI Cabang dalam melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul c. Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat daerah d. Menyelenggarakan kegiatan tingkat PMI Daerah, misal: Jumbara Daerah e. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR f. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Propinsi (TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, NGO) untuk pengembangan pembinaan PMR g. Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR, dan meneruskan informasi tersebut kepada PMI Cabang h. Memfasilitasi PMI Cabang dalam menerapkan informasi-informasi tentang pembinaan PMR 3. PMI Cabang a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Memfasilitasi kelompok PMR melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul c. Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat cabang dan kelompok PMR d. Menyelenggarakan kegiatan tingkat PMI Cabang, misal: orientasi Pembina PMR, pelatihan gabungan anggota PMR, Jumbara Cabang e. Menugaskan pelatih PMI untuk melatih kelompok PMR f. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR g. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Kota/Kabupaten (TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, NGO) untuk pengembangan pembinaan PMR h. Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR dan meneruskan informasi tersebut kepada kelompok PMR i. Memfasilitasi Kelompok PMR dalam menerapkan informasi-informasi tentang pembinaan PMR 4. Penanggung jawab a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan dikelompok PMR c. Bersama dengan PMI Cabang mengatur, memonitor, dan mengevaluasi tugas Pembina PMR, dan Pelatih PMI di kelompok PMR tersebut d. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR e. Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Kota/Kabupaten /Kecamatan f. Menerapkan informasi-informasi terkait pembinaan PMR, untuk pengembangan PMR 5. Pembina PMR a. Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR b. Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR c. Menerapkan informasi-informasi terkait pembinaan PMR, untuk pengembangan PMR 6. Instansi terkait a. Mendukung upaya pembinaan PMR, sesuai 7 Prinsip Palang Merah Indonesia dan Bulan Sabit Merah Internasional b. D. Lain-lain 1. Penanggung Jawab a. Hak 1) Mendapat pembinaan dari PMI Cabang 2) Memberikan saran dan pendapat kepada PMI Cabang tentang pengembangan dan pembinaan PMR 3) Menjadi anggota PMI yang tergabung dalam anggota TSR PMI Cabang 4) Menjadi pelatih PMI sesuai ketentuan standard Pelatih PMI b. Kewajiban 1) Menjadi anggota PMI yang tergabung dalam anggota TSR PMI Cabang 2) Mengikuti orientasi kepalangmerahan 3) Melakukan pembinaan PMR 4) Mengembangkan kelompok PMR 2. Pembina PMR a. Hak 1) Mendapat pembinaan dari PMI Cabang dan penangung jawab pengurus PMR 2) Memberi saran dan pendapat kepada PMI Cabang tentang pengembangan dan pembinaan PMR 3) Menjadi anggota PMI yang tergabung dalam anggota TSR PMI Cabang 4) Menjadi pelatih PMI sesuai ketentuan standard pelatih PMI b. Kewajiban 1) Menjadi anggota PMI yang tergabung dalam anggota TSR PMI Cabang 2) Mengikuti orientasi kepalangmerahan 3) Melakukan pembinaan PMR 4) Melakukan pengembangan PMR MATERI PERTOLONGAN PERTAMA CEDERA ALAT GERAK. Alat gerak terdiri dari dari tulang, Sendi, Jaringan ikat dan otot pada manusia. Secara Umum cedera pada alat gerak dapat berupa : 1. Patah tulang. 2. Kepala sendi atau ujung tulang keluar dari sendi ( cerai sendi, Dislokasi ). 3. Otot atau sambungan ototnya teregang melebihi batas normal ( terkilir otot, strain ). 4. Robek atau putusnya jaringan ikat di sekitar sendi/terkilir sendi, Sprain Patah Tulang. Pengertian : Terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja. Penyebab : Terjadinya Gaya yang melebihi kapasitas gaya elastisitas tulang sehingga jaringan tulang rusak. Gaya tersebut akibat kekerasan dari luar. Cedera dapat terjadi sebagai akibat : Gaya Langsung, Gaya tidak langsung, Gaya Puntir. Gejala dan Tanda : 1. Terjadinya Perubahan Bentuk pada bagian tubuh yang patah. ( Bandingkan dengan sisi yang lain ). 2. Daerah yang patah nyeri dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan. 3. Bagian yang patah membengkak, Memar / Perubahan Warna. 4. Mengalami Fungsi Gerak. 5. Terdengan suara berderik. 6. Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka. Jenis Patah Tulang : 1. Patah Tulang Tertutup : tidak ada luka. 2. Patah Tulang Terbuka. : Ada Luka, Tulang yang patah berhubungan dengan udara, akan tetapi tulang yang patah tidak selalu terlihat atau menonjol keluar. ( Hati – hati Infeksi ). Urai / Cerai Sendi ( Dislokasi ). Pengertian : Keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang ari sendinya. Penyebab : Karena sendi teregang melebihi batas normal. Gejala dan Tanda : Secara UMUM berupa gejala tanda patah tulang yang terbatas pada daerah sendi. Terkilir / Keseleo. Ada 2 macam : 1. Terkilir Sendi ( Sprain ). Pengertian : Robeknya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas normal. Penyebab : Terpeleset, gerakan yang salah, sehingga menyebabakan sendi teregang melampaui gerakan normal. Gejala dan tanda : Nyeri bengkak., bengkak, Nyeri tekan, Memar. 2, Terkilir Otot ( Strain ). Pengertian : Robeknya jaringan oto bagian tendon ( Ekor Otot ), karena teregang melebihi batas normal. Penyebab : Umumnyaterjadi karena pembebanan secara tiba – tiba pada otot tertentu. Gejala dan Tanda : 1, Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu. 2, Nyeri menyebar keluar dengan kejang atau kaku otot. 3, Bengkak pada daerah cedera. PEMBIDAIAN Pengertian : Upaya untuk menstabilkan dan mengistirahatkan ( Immobilisasi ) bagian yang cedera. Tujuan : 1. Mencegah pergerakan / Pergeseran dari ujung tulang yang patah. 2. Mengurangi terjadinya cedera baru di sekitar bagian tulang yang patah. 3. Memberi istirahatkan pada anggota badan yang patah. 4. Mengurangi rasa nyeri. 5. Mempercepat penyembuhan. Macam – Macam Bidai : 1. Bidai Keras. ( terbuat dari kayu, alumunium, dan bahan lainnya ). 2. Bidai Traksi. 3. Bidai Improvisasi.( Koran, Majalah dan Lainnya ). 4. Gendongan / Belat dan Beban. ( Mitella dibuat Gendongan ). Pedoman Umum Pembidaian. 1. Sedapat mungkin informasikan tindakan yang akan dilakukan. 2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera yang cedera dan rawat pendarahan bila ada. 3. Selalu buka / bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di daerah Distal. 4. Nilai GSS ( Gerakan Sensasi Sirkulasi ) pad bagian Distal cedera sebelum melakukan Pembidaian. 5. Siapkan Alat – alatnya selengkapnya. 6. Jangan berupaya merubah posisi bagian ynag cedera, upayakan membidai dalam posisi di temukan. 7. Jangan berupaya memasukan tulang yang patah. 8. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah, Sebelum dipasang diukur dulu pada anggota badan yang sehat. 9. Bila pada sendi bidai tulang yang mengapit sendi upayakan jangan membidai sendi distalnya. 10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak bila memungkinkan. 11. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis. 12. Ikatan jangan terlalu longgar dan jangan terlalu keras. 13. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah. 14. Selesai Pembidaian lakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan yang pertama. 15. Jangan membidai berlebihan. Petolongan Cedera Alat Gerak. 1. Lakukan Penilaian Dini. - Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa. - Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat. - Pasang bidai leher ( Neck Collar ) dan beri O2 bila ada. 2. Lakukan pemeriksaan Fisik. 3. Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan menambah sakit penderita. 4. Paparkan seluruh bagian yang di duga cedera. 5. Atasi pendarahan dan rawat luka bila ada. 6. Siapkan alat dan bahan untuk membidai. 7. Lakukan pembidaian. 8. Kurangi rasa sakit. - Istirahatkan bagian yang cedera. - Kompres es yang cedera ( Khususnya pada patah tulang tertutup ). - Baringkan penderita pada posisi yang nyaman. Patah tulang, cerai sendi, dan terkilir / keseleo mungkin ditemukan bersamaan pada satu cedera. Penanganan terkilir . 1. Letakkan penderita dalam posisi yang nyaman, istirahatkan bagian yang cedera. 2. Tinggikan daerah yang cedera. 3. Beri kompres dingi, selama 30 meni, ulangi setiap jam bila perlu. 4. Balut tekan dan tetap tinggikan. 5. Bila ragu rawat sebagai patah tulang. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Menolong beberapa macam cedera alat gerak. Patah Tulang Lengan Atas. Pertolongan : 1. Letakkan lengan bawah di dada dengan terlapak tangan menghadap kedalam. 2. Pasang Bidai L atau bidai sampai siku. 3. Ikat pada daerah diatas dan di bawah tulang yang patah. 4. Lengan bawah di gendong. 5. Jika siku juga patah dan tangan dan tangan tak dapat dilipat, pasang bidai sampai kelengan bawah dan biarkan tangan tergantung tidak usah di gendong. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Lengan Bawah. Pertolongan : 1. Letakan tangan pada dada. 2. Pasang bidai dari siku sampai tangan. 3. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah. 4. lengan yang digendong. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Panggul. Tanda – tanda patah tulang panggul. 1. Nyeri di daerah atas kemaluan bila penderita mencoba duduk atau berdiri. 2. Kadang tidak mampu menggerakan kaki dan terasa kesemutan. Pertolongan : 1. Harus hati hati dalam memindahkan penderita. 2. Penderita harus diangkat dengan usungan papan dengan ke dua kaki diikat menjadi satu. 3. Di bawah lutut di beri bantal, letakkan bantalan lunak di samping kiri dan kanan tulang pinggul. 4. Pembalut diikatkan pada tulang pinggul dan pergelangan kaki. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Paha ( Tungkai Atas ). Pertolongan : 1. Siapkan pembalutan secukupnya untuk mengikat bidai, sebaiknya pasang 2 bidai dari : a. Ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki. b. Lipat paha sampai sedikit melewati telapak kaki. 2. Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah. 3. Bila perlu ikat kedua tungkai di atas lutut dan pergelangan kaki / telapak kaki dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan. 4. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah tulang paha dapat menimbulkan perdarahan dalam sehingga penderita dapat mengalami syok. Patah Tulang Tungkai Bawah. Pertolongan : 1. Siapkan Pembalut secukupnya untuk mengikat bidai. 2. Sebaiknya pasang dua bidai sebelah dalam dan luar tungkai yang patah. 3. Di antara bidai dan tungkai beri kapas atau kain sebagai alas. 4. Bidai mulai dari lipat paha sampai sedikit melebihi telapak kaki. 5. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Patah Tulang Kaki. Pertolongan : 1. Apabila tidak ada perdarahan, sepatu tidak di buka sebab sudah merupakan bidai. 2. Bila ada perdarahan banyak dan terjadi pembengkakan, maka sepatu dibuka, bila sukar di gunting. 3. Hentikan pendarahan yang terjadi. 4. Beri kapas atau kain pada telapak kaki, kemudian pasang bidai yang sesuai dengan panjang telapak kaki. 5. Beri ikatan pada kaki dan jangan terlalu kencang. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Urai Sendi Rahang Bawah. Gejala dan Tanda.: a. Mulut terbuka. b. Rahang bawah kaku sukar digerakan. c. Rasa nyeri. d. Sukar berbicara. Pertolongan : 1. Bungkus kedua ibu jari penolong, maksud agar tidak licin dan mencegah jari cedera bila terkatup mulut si penderita. 2. Berdiri di depan penderita. 3. Letakan ibu jari di geraham penderita. 4. Tekan kearah bawah dan dorong ke arah belakang kemudian ke atas, cepat cepat lepaskan ibu jari dari mulut penderita. 5. Setelah kembali Normal Imobilisasi daerah tersebut. 6. Rujuk ke fasilitas kesehatan. Wienbels turut melakukan sosialisasi 7 (Tujuh) Materi PMR, Implementasi Tri Bhakti PMR dan Perubahan Karakter kepada temen-temen PMR di Jakarta Barat. Semoga bermanfaat,,, ANATOMI DAN FAAL DASAR TUBUH MANUSIA “Pengetahuan dasar tubuh dan faal tubuh manusia keharusan bagi pelaku pertolongan pertama” ANATOMI (Susunan Tubuh) ; Ilmu yang mempelajari susunan dan bentuk tubuh. FISIOLOGI ( Faal Tubuh) : Ilmu yang mempelajari faal (Fungsi) bagian dari alat atau jaringan Tubuh. Regio (Bagian) Tubuh : Tubuh dikelilingi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Secara garis besar, tubuh manusia dibagi menjadi: 1. Kepala 2. Leher 3. Batang tubuh (Dada, perut, punggung dan panggul) 4. Anggota gerak atas 5. Anggota gerak bawah Selain pembagian tubuh maka juga perlu dikenali 5 (lima) buah Rongga yang terdapat didalam tubuh manusia yaitu ; 1. Rongga tengkorak 2. Rongga tulang belakang 3. Rongga dada 4. Rongga perut 5. Rongga panggul Perut (Abdomen) Untuk rongga perut dibagi menjadi 4 bagian yang dikenal Kwadran, (dilihat dari sisi korban): a. Kwadran kanan atas (Ada organ hati, kandung empedu, pankreas dan usus) b. Kwadran kiri atas (Ada organ lambung, limpa dan usus) c. Kwadran kanan bawah (Terutama organ usus termasuk usus buntu) d. Kwadran kiri bawah (Terutama usus) Struktur tubuh manusia Tubuh manusia terbentuk dari unit hidup yang terkecil sampai menjadi bentuk kompleks. Bagian terkecil dari makhluk hidup adalah Sel dan kumpulan dari Sel-sel yang menyatu dengan bentuk, besar dan fungsinya dinamakan Jaringan serta kumpulan bermacam jaringan yang bersatu dengan fungsi tertentu disebut Organ. SISTEM TUBUH Adalah susunan dari organ-organ yang mempunyai fungsi tertentu: I. SISTEM RANGKA Rangka manusia terdiri dari berbagai tulang dan mempunyai bentuk berbagai macam yaitu: 1. T. Panjang/T. Pipa, misalnya pada Tulang Paha (Femur) dan Lengan Atas (Humerus) 2. T. Pendek misalnya tulang-tulang jari (Ossa digitorum) 3. T. Pipih misalnya Tulang Rusuk (Costae) 4. T. Tak beraturan, misalnya Tulang-tulang Pergelangan Tangan (Ossa metacarpi) 5. T. Sesamoid,misalnya Tulang Tempurung Lutut (Patella) SUSUNAN KERANGKA 1. Tulang Kepala a. Tengkorak otak (Ossa cranii) b. Gubah tengkorak (Os parietale) c. Dasar tengkorak (Os occipitale) 2. Tulang Wajah a. T.dahi (Os frontale) b. T.pelipis (Os temporale) c. T.hidung (Os nasale) d. Rahang atas (Maxilla) e. Rahang bawah (Mandibula) 3. Kerangka Dada a. T. Dada (Sternum) 1 buah b. T. Rusuk / Iga (Costae) 12 pasang c. Rangkaian tulang belakang • T. Leher (Pars cervicalis) 7 ruas • T. Punggung (Pars thoracica) 12 ruas • T. Pinggang (Pars lumbalis) 5 ruas • T. Kelangkang (Os sacrum) • T. Ekor / tungging (Os coccygis) 4. Tulang Panggul (Os coxae) a. T. Kamaluan b. T. Duduk 5. Angota Gerak Atas a. T. Selangka (Clavicula) b. T. Belikat (Scapula) c. T. Lengan atas (Humerus) d. T. Hasta (Radius) e. T. Pengumpil (Ulna) f. T. Pergelangan tangan (Ossa carpi) g. T. Telapak tangan (Ossa metacarpi) h. T. Ruas jari tangan (Ossa digitorum) i. T. Pada persendian bahu (Articulatio humeri) j. T. Pada persendian siku (Articulatio cubiti) 6. Anggota Gerak Bawah a. T. Paha (Femur) b T. Tempurung lutut (Patella) c T. Kering (Tibia) d T. Betis (Fibula) e T. Pergelangan kaki (Ossa tarsi) f T. Telapak kaki (Ossa metatarsi) g T. Ruas jari kaki (Ossa digitorum) II SISTEM OTOT Merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak. Golongan otot 1. Otot Rangka (otot serat lintang, otot serat lurik) 2. Otot Polos 3. Otot Jantung Susunan otot rangka tubuh: a. Otot-otot Kepala b. Otot-otot Leher c. Otot-otot Bahu d Otot-otot Dada e Otot-otot Perut f Otot-otot Punggung g Otot-otot Lengan atas h Otot-otot Lengan bawah i. Otot-otot Panggul j. Otot-otot Tungkai atas k Otot-otot Tungkai bawah Otot rangka Merupakan otot yang bergerak aktif dan memelihara sikap tubuh, dalam keadaan istirahat otot tetap mempunyai sedikit ketegangan yang disebut tonus otot. Fungsi tonus otot a. Memelihara sikap dan posisis tubuh b. Menahan rongga perut oleh otot-otot perut c. Menahan tekanan darah oleh otot-otot dinding pembuluh darah III SISTEM PERNAPASAN Pernafasan dibagi dua jenis : 1. Pernafasan dalam : pertukaran gas yang terjadi didalam jaringan 2. Pernafasan luar : pertukaran gas oksigen dan karbondioksida dalam paru- paru Susunan : 1. Hidung dan mulut 2. Tekak (farings) 3. Pangkal tenggorok (larings) 4. Batang tenggorok (trakea) 5. Cabang tenggorok (bronkus) 6. Paru-paru (Pulmo) 7. Anak cabang tenggorok (bronkiolus) 8. Gelembung udara paru-paru (alviolus) Fungsi : 1. Mengambil (O2) untuk diedarkan keseluruh tubuh sebagai zat pembakar 2. Mengeluarkan (Co2) sebagai sisa pembakaran dibuang melalui paru-paru 3. Menghangatkan dan melembabkan udara (Hidung) Proses Pernapasan : 1. Menarik napas (Inspirasi atau Inhalasi) 2. Menghembuskan napas (ekspirasi atau ekshalasi) Cara Pernapasan : 1. Pernapasan dada, ketika bernapas rangka dada bergerak membesar 2. Pernapasan perut, ketika bernapas sekat rongga dada bergerak naik turun dipacu oleh perubahan tekanan dalam perut. IV. SISTEM SIRKULASI DARAH Sistem sirkulasi darah terdiri dari : 1. Jantung 2. Pembuluh darah a. Pembuluh nadi (Arteri) Pembuluh darah yang keluar dari jantung, dan membawa darah ke organ dan bagian tubuh -. A.Temporalis (di T.Os temporale) -. A.Facialis (dibawah T.mandibula) -. A.Subclavia (dibelakang T.clavicula) -. A.Carotis (di T.cervical) -. A.Brachialis (di proximal T.humerus) -. A.Radialis (di distal T.radius) -. A.Femoralis (di proximal T.femur) -. A.Dorsalis pedis (diatas T.Ossa tarsi) -. A.Tibialis posterior (disamping dalam T.Ossa tarsi) b. Pembuluh balik (Vena) Pembuluh darah yang membawa darah dari bagian atau organ tubuh kembali ke jantung c. Pembuluh rambut (kapiler) Merupakan pembuluh darah halus dan berfungsi sebagai: -. Alat penghubung arteri dan vena -. Tempat pertukaran zat -. Mengambil hasil kelenjar -. Menyerap zat nutrisi di usus 3. Darah dan komponennya 4. Saluran linfe FUNGSI DARAH 1. Alat pengangkut a. Mengangkut O2 dari paru-paru keseluruh jaringan tubuh b. Mengangkut CO2 dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru c. Mengambil zat nutrisi / makanan dari usus halus ke seluruh jaringan tubuh d. Mengangkut zat tidak berguna untuk dikeluarkan dari tubuh melalui kulit dan ginjal 2. Pertahanan tubuh terhadap penyakit 3. Bagian dari proses pengaturan suhu tubuh 4. Membantu membekukan darah bila terjadi luka Jumlah darah dalam tubuh berkisar 1/13x atau sekitar 8% berat badan Darah terdiri dari : 1. Cairan plasma dimana terlarut zat gizi, zat sampah dan zat kebal 2. Sel darah merah yang bertugas menghantar O2 keseluruh tubuh 3. Sel darah putih yang bertugas melawan kuman penyakit 4. Keping darah yang bertugas pembekuan darah apabila terjadi luka Peredaran darah terdiri dari : 1. Peredaran darah kecil dengan bagan sebagai berikut Jantung – Pembuluh nadi – Paru-paru (terjadi pengambilan O2 dan pembuangan gas CO2) – Pembuluh darah balik – Paru-paru – Jantung. 2. Peredaran darah besar dengan bagan sebagai berikut Jantung – Pembuluh nadi – seluruh bagian tubuh (terjadi pemberian O2 serta pengambilan zat sampah) – Pembuluh balik jantung. Denyut nadi Denyut nadi dapat teraba setiap jantung berdenyut / memompa darah yang diteruskan melalui pembuluh nadi. V. SISTEM SARAF Sistem yang berfungsi mengatur seluruh tubuh dengan melakukan Koordinasi dan kerjasama antar sistem dalam tubuh Pembagian sistem saraf : 1. Susunan saraf pusat a. Otak -. Otak besar -. Otak kecil -. Batang otak 2. Susunan saraf tepi a. Susunan saraf somatik b. Susunan saraf otonom Fungsi : a. Sensorik (dilakukan oleh organ panca indera) b. Motorik (mengatur tubuh bergerak) c. Kordinasi / (Gabungan) -. Mengendalikan sistem lain tubuh -. Mengatur kesadaran, ingatan, bahasa dan emosi VI. SISTEM PENCERNAAN Saluran percernaan adalah saluran yang menerima makanan dari luar untuk diserap oleh tubuh dengan jalan dicerna yang mendapat bantuan enzim dan zat cair mulai dari mulut sampai anus. Susunan : 1. Mulut 2. Tekak (Farings) 3. Kerongkongan 4. Lambung 5. Usus halus a. Usus 12 jari b. Jejunum c. Ileum 6. Usus besar a. Seikum b. Usus buntu c. Kolon asendens d. Kolon transversum e. Kolon desendens f. Kolon sigmoid g. Poros usus h. Anus Organ getah pencernaan : a. Kelenjar ludah b. Kelenjar getah lambung c. Kelenjar pankreas (kelenjarludah perut) d. Kelenjar getah usus VI. SISTEM ENDOKRIN Kelenjar endokrin / buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya kedalam darah tanpa melalui suatu saluran, hasil sekresi ini disebut Hormon VII. SISTEM KEMIH (URINARIUS) Proses penyaringan darah untuk menyerap zat yang digunakan tubuh dan membebaskan dari zat yang tidak digunakan tubuh. VIII. SISTEM REPRODUKSI Organ reproduksi membentuk traktus genetalia yang berhubungan dengan traktus urinarius. Pada laki-laki kedua traktus ini berhubungan langsung sedangkan pada perempuan tidak menyatu. MATERI PALANG MERAH REMAJA Berikut Ini adalah materi Palang Merah Remaja pada kelompok Wira NO MATERI WIRA 1. Kepalangmerahan 15 jam 2. Pertolongan Pertama 22 jam 3. Perawatan Keluarga 18 jam 4. Kesehatan Remaja 8 jam 5. Kesiapsiagaan Bencana 15 jam 6. Kepemimpinan Kepalangmerahan 35 jam 7. Donor Darah 4 jam TOTAL 117 jam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PMR Wira Unit MA Al Syarifiyah Bondan"

Post a Comment